PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN BERPIKIR KRITIS UNTUK SISWA SMP KELAS VII PADA MATERI INTERAKSI MAKHLUK HIDUP DENGAN LINGKUNGAN Tersedia secara online EISSN: 2502-471X

Sri Dharmawati, Susriyati Rahayu, Pendidikan Mahanal, Pascasarjana-Universitas Dasar, Jalan Malang, Semarang, Malang, Jurnal Pendidikan
unpublished
This study aims to generate critical thinking assessment instrument for seven graders within organism interaction in an environment with an appropriate validity and reliability level. The design of this instrument is developed using stages suggested by Borg and Gall. The stages are researching and collecting information, planning, developing a preliminary product, conducting the limited examination, revising product from limited examination, field testing, revising product from field testing,
more » ... d finalizing product. The result of content and construction validation shows that the level of feasibility is 88,35% and categorized as very feasible. While the degree of readability of assessment items is 93,51% and it is categorized as excellent. The coefficient of inter-rater reliability of assessment items is 0,951 and categorized as excellent. The instrument acquires reliability coefficient 0,792 for multiple choice and 0,753 for essay items. This study shows that the content, construction, and items in assessment are feasible. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan instrumen asesmen berpikir kritis untuk siswa SMP kelas VII pada materi interaksi makhluk hidup dengan lingkungan dengan tingkat validitas dan reliabilitas yang memadai. Rancangan penelitian menggunakan model pengembangan menurut Borg & Gall, yang meliputi langkah-langkah: penelitian dan pengumpulan informasi, perencanaan, pengembangan produk awal, uji coba terbatas, revisi produk uji coba terbatas, uji coba lapangan, revisi uji coba produk lapangan, dan penyempurnaan produk akhir. Berdasarkan hasil validasi isi dan konstruk diperoleh tingkat kelayakan produk sebesar 88,35% berada pada kriteria sangat layak. Tingkat keterbacaan soal asesmen sebesar 93,51% dengan kategori sangat baik. Koefisien inter-rater reliability pada soal asesmen bentuk penugasan sebesar 0,951 dengan kategori sangat baik. Instrumen tersebut mempunyai koefisien reliabilitas sebesar 0,792 (soal pilihan ganda) dan 0,753 (esai). Kesimpulan hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan validasi isi, konstruk, dan butir soal adalah layak untuk digunakan. Kata kunci: pengembangan, instrumen asesmen, berpikir kritis Tujuan utama keberhasilan pendidikan adalah peningkatan sumber daya manusia. Keberhasilan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kemampuan guru dalam melakukan dan memanfaatkan asesmen, evaluasi proses, dan hasil belajar (Arifin, 2009:12). Kemampuan tersebut sangat diperlukan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan dalam kurikulum. Selain itu, kemampuan tersebut juga dapat digunakan untuk memperbaiki atau meningkatkan proses pembelajaran yang telah dilakukan guru (Budiman & Jailani, 2014:140). Pernyataan tersebut sesuai dengan Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru mata pelajaran, bahwa kompetensi guru mata pelajaran, antara lain adalah mengembangkan instrumen asesmen. Prinsip dan standar asesmen menekankan dua ide pokok, yaitu (1) asesmen harus meningkatkan hasil belajar peserta didik, (2) asesmen merupakan sebuah alat yang berharga untuk membuat keputusan pengajaran (Kemendiknas, 2007). Oleh karena itu, kegiatan asesmen sangat penting dalam pembelajaran karena dapat memberikan umpan balik yang konstruktif bagi guru maupun peserta didik, dapat memberikan motivasi kepada peserta didik untuk berprestasi lebih baik dan dapat memengaruhi perilaku belajar sesuai dengan asesmen yang dilakukan guru (Van de Walle, 2007:78). Kualitas instrumen asesmen hasil belajar berpengaruh langsung dalam keakuratan status pencapaian hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu, kedudukan instrumen asesmen hasil belajar sangat strategis dalam pengambilan keputusan guru dan sekolah terkait pencapaian hasil belajar peserta didik adalah kemampuan berpikir kritis (Hariyanto, 2014:7). Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memenuhi kebutuhan masa depan dan menyongsong Generasi Emas Indonesia Tahun 2045, telah ditetapkan Standar Kompetensi
fatcat:dt6xsfjpr5gn7hxeii6pn7wxbu