QUO VADIS PEKERJA ANAK PADA PERKEBUNAN TEMBAKAU DI KABUPATEN JEMBER

Rosita
2017 Petita Jurnal Kajian Ilmu Hukum dan Syariah  
The most significant share of child laborers in the world is in agriculture and plantations, where they do various types of agricultural jobs, ranging from small to medium family farming to large agricultural, plantation or agroindustry businesses. The ILO estimates that more than 132 million girls and boys aged 5-14 years old are involved in planting, harvesting agricultural products, spraying pesticides and raising livestock in rural areas and plantations worldwide. The child labor phenomenon
more » ... in tobacco plantations in Jember Regency has existed since the Dutch colonial era. Several studies have been conducted concerning child labor in tobacco businesses, such as YPSM (1988), Pusat Analisis Sosial Akatiga Bandung (1994 and 2002), Mahbubah (2003), revealed that the problem of child labor and its influencing factors are the "constant" issue. This phenomenon is ironic, considering that Jember tobacco is one of the leading export products for Indonesian tobacco, which significantly benefits the country and entrepreneurs. Although child labor has been banned, many plantations in Jember Regency still employ children. Many factors contribute to child labor in several plantations in Jember Regency, including economic and educational factors. Abstrak: Bagian terbesar pekerja anak di dunia bekerja di pertanian dan perkebunan, di mana mereka melakukan berbagai jenis pekerjaan pertanian baik usaha pertanian keluarga berukuran kecil maupun sedang hingga usaha pertanian, perkebunan atau agro industri yang besar. ILO memperkirakan bahwa di seluruh dunia lebih dari 132 juta anak perempuan dan laki-laki berusia 5-14 tahun terlibat dalam kegiatan penanaman, pemanenan hasil pertanian, penyemprotan pestisida dan pemeliharaan ternak di wilayah-wilayah pedesaan dan perkebunan. Fenomena pekerja anak di perkebunan Tembakau pada Kabupaten Jember sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai pekerja anak di usaha tembakau seperti yang dilakukan oleh YPSM (1988), Pusat Analisis Sosial Akatiga Bandung (1994 dan 2002), Mahbubah (2003) menunjukkan bahwa masalah pekerja anak dan faktor-faktor yang menyebabkannya merupakan masalah yang "konstan". Hal ini tentu saja menjadi sangat ironis mengingat tembakau Jember merupakan salah satu produk andalan ekspor bagi tembakau di Indonesia yang banyak memberi keuntungan bagi negara dan pengusaha. Meskipun telah dilarang akan tetapi masih banyak perkebunan di Kabupaten Jember yang mempekerjakan anak, hal ini karena terdapat banyak faktor yang menyebabkan mengapa anak masih banyak yang terlihat di beberapa perkebunan di Kabupaten Jember, salah satunya adalah faktor ekonomi dan faktor pendidikan. Kata Kunci : Pekerja Anak, Perkebunan tembakau, Kabupaten Jember
doi:10.22373/petita.v2i1.57 fatcat:jmg3qpvdmfgzjm2w4admhlbnsa