ASPEK KEJIWAAN TOKOH DAN NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL THE CHRONICLE OF KARTINI KARYA WIWID PRASETYO SERTA RELEVANSINYA DENGAN BAHAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA

Ayu Dintya, Purika, Dan Andayani, Sumarlam
2016 Jurnal S2 Pendidikan Bahasa Indonesia   unpublished
This research described the novel The Chronicle of Kartini work wiwid prasetyo in terms of (1) the structure novel includes: the theme, figures and penokohan and the message of in the novel the chronicle of kartini work Wiwid Prasetyo; (2) aspects psychiatric a figure in the novel The Chronicle of Kartini work Wiwid Prasetyo; (3) described and explains value character education in the novel The Chronicle of Kartini work Wiwid Prasetyo; (4) described and explains relevance study the novel The
more » ... dy the novel The Chronicle of Kartini work Wiwid Prasetyo with learning the indonesian language in high school. The research is research descriptive qualitative with the methods content analysis (analysis the contents of/analysis a document). This research result indicates that the theme contained in a novel as a broad outline highlight education related to history education figures indonesian women, R.A. Kartini. Psychiatric aspects figures according to the theory needs abraham maslow includes: a physiological need, the safety, the mutual having and loved, the awards (esteem), and needs aktualisasi themselves. The character education that are more dominant in this novel, the hard work. A novel it has relevance to learning the indonesian language in high school. Keywords: psychology literature Abraham Maslow, the character education, relevance to learning in high school, the novel The Chronicle of Kartini PENDAHULUAN Karya sastra merupakan ungkapan batin seseorang yang digambarkan melalui bahasa. Imaji dari penyair atau pengarang dapat merupakan gambaran terhadap kenyataan hidup, wawasan pengarang terhadap kenyataan hidup atau kehidupan, dapat pula imajinasi murni pengarang atau penyair, dan dapat pula sebagai campuran semuanya itu. Biasanya gambaran atau imajinasi yang ditulis pengarang berasal dari cerita kehidupan nyata atau pun rekaan, yang diungkapkannya dalam bentuk karya sastra. Sastra akan berkembang jika masyarakatnya mempunyai daya kreasi atau daya cipta. Manusia dapat menciptakan karya sastra karena adanya kehidupan. Oleh karena itu, antara manusia, karya sastra, dan kehidupan berjalan beriringan. Ketiganya mempunyai hubungan timbal balik yang sangat berpengaruh, hal ini terlihat jelas bahwa manusia merupakan pendukung utama dan pelaku utama yang menentukan kehidupan sastra. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan (Nurgiyantoro, 2010: 3), bahwa
fatcat:ee5i4iuhlnh4xdrzeobazty2fq