Penerapan Cultural Studies dan Aliran Filsafat dalam Desain Komunikasi Visual

Laura Christina Luzar, Monica Monica
2014 Humaniora  
Cultural studies is a diversity knowledge from different variety of perspectives, through the production of theory trying to intervene in political culture. Cultural studies explores culture as a practice purport in the context of social force. In this case, cultural studies is not only based on one point only, but also cultural studies tries to compose a variety of theoretical studies of other disciplines developed wider, so that covers a wide range of academic theories that already existed,
more » ... cluding Marxism, Structuralism, Post-structuralism, and feminism. By eclectic method, cultural studies puts the positioning to all knowledges, including on its knowledge which integrates with culture, practice of signification, representation, discourse, authority, articulation, text, read, and consumption. Cultural studies could be described as a language game or formation of discourse associated with relation to power in signification practice of human life. In addition to cultural studies, there is also feminism theory participated in the concept of feminist cultural studies that reconstructs and transforms view of misperception between feminism and cultural studies. Feminism affects cultural studies, but not all feminism can be viewed as cultural studies, and not all cultural studies talks about gender. Both of cultural studies and feminism have substantive importance in relation to power, representation, pop-culture, subjectivity, identity and consumption. The theory of social construction is also has connectivity with cultural studies. Construction of reality is inseparable from mark, symbol, and language. Media are full of reality constructed for people to affect people as ethics persuasion in media do. ABSTRAK Cultural studies adalah keragaman pengetahuan dari berbagai perspektif yang berbeda, melalui produksi teori berusaha untuk mengintervensi politik budaya. Cultural studies mengeksplorasi kebudayaan sebagai praktik pemaknaan dalam konteks kekuatan sosial. Dalam hal ini, cultural studies tidak hanya berpusat pada satu titik saja, cultural studies berusaha mengomposisikan berbagai kajian teoretis disiplin ilmu lain yang dikembangkan secara lebih luas, sehingga mencakup berbagai keilmuan dari teori yang sudah ada, termasuk teori Marxisme, Strukturalisme, Post-strukturalisme, dan Feminisme. Dengan metode eklektis, cultural studies menempatkan posisi pada semua pengetahuan, termasuk pada pengetahuannya sendiri, yang menyatu dengan kebudayaan, praktik signifikasi, representasi, diskursus, kekuasaan, artikulasi, teks, membaca, dan konsumsi. Cultural studies dapat dideskripsikan sebagai permainan bahasa atau pembentukan wacana yang terkait dengan isu kekuasaan dalam praktik signifikasi kehidupan manusia. Selain cultural studies, terdapat pula teori feminis yang berperan dalam mengonstruksikan konsep cultural studies feminis, mentransformasikan pandangan tentang persepsi yang salah antara feminisme dengan cultural studies. Feminisme memang memengaruhi cultural studies, tetapi tidak semua feminisme dapat dipandang sebagai cultural studies dan tidak semua cultural studies berbicara mengenai gender. Cultural studies dan feminisme sama-sama memiliki kepentingan substantif dalam isu kekuasaan, representasi, budaya pop, subjektivitas, identitas dan konsumsi. Teori konstruksi sosial juga memiliki keterkaitan dengan cultural studies. Konstruksi realitas tidak terlepas dari tanda, simbol, dan bahasa. Dunia media penuh dengan realitas yang dikonstruksikan bagi masyarakat untuk memengaruhi masyarakat seperti halnya etika persuasi dalam media.
doi:10.21512/humaniora.v5i2.3272 fatcat:egde5yrjcndk7g4xfx5mi4xbwq